Antara Spiritualitas, Manajemen Diri dan Membangun Habit Positif

Oleh: Nanang Firdaus Masduki

Beberapa hari setelah dimulainya kembali aktifitas program tahfidz 30 juz, saya medapati beberapa siswa dan siswi datang terlambat. Dan keterlambatannya pun variatif. Mulai dari terlambat 5 menit hingga 1 jam. Ketika saya dapati, siswa yang paling banyak terlambat adalah siswa-siswi secondary dan ada juga beberapa siswa primary. Saya pun minta mereka setengah lari agar segera bergabung dengan groupnya. Dan secara acak pula saya tanya alasan kenapa mereka terlambat. Hal yang sama juga saya lakukan kepada muhafidz yang datang terlambat. Tidak ada bedanya.

Banyak alasan yang keluar khas orang kita yang diutarakan oleh para peserta. Macam-macam alasan. Namun ada satu alasan yang membuat saya tertegun mendengarnya. Mereka terlambat katanya karena alasannya sebentar lagi mau lulus. Sebentar lagi mau pindah sekolah. Ada juga yang beralasan terlambatnya karena bangunnya telat dan sebagainya.

Ketika program ini pertama kali digulirkan, ada banyak alasan yang mendasari kenapa program ini harus diselenggarakan serta apa tujuan yang ingin dicapai. Saya pun yakin, bergabungnya anak-anak kita dalam program ini didasari oleh banyak pertimbangan. Diantara pertimbangan itu adalah:

Pertama, aspek spiritualitas.

Menjadi seorang penghafal Alquran (hafiz) tentu tidak mudah. Butuh niat yang kuat dan kerja keras yang luar biasa. Karenanya, banyak yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada seorang muslim yang berhasil menghafal Alquran.  Banyak dalil yang menyebutkan keutamaan para hafiz.
Di antaranya, hadis Rasulullah dari Usman bin Affan. Beliau pernah bersabda, “Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Alquran (kepada orang lain),” hadis riwayat Imam Bukhari.

Hadis lain dari Ibnu Umar, Nabi bersabda, “Tidak boleh ada hasad (dengki) kecuali pada dua hal. (Pertama) kepada seorang yang telah diberi Allah (hafalan) Alquran, sehingga ia membacanya siang dan malam. (Kedua) kepada seorang yang dikaruniakan Allah harta kekayaan, lalu dibelanjakannya harta itu siang dan malam (di jalan Allah),” riwayat Bukhari dan Muslim.

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa dari Buraidah al-Aslami ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda _ “Siapa yang membaca al-Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari al-Qur’an”. (HR. Al Hakim)_.

Cukuplah hadis-hadis tersebut menunjukkan keutamaan para penghafal dan pembaca Alquran. Di dalam Islam, menghafal Alquran merupakan amalan yang tinggi. Pelakunya mendapat derajat yang tinggi. Apalagi, dari ingatan merekalah kemurnian Alquran terus terjaga. Kendati demikian, hukum menghafal Alquran bukanlah fardhu ain, melainkan fardhu kifayah. Inilah alasan spiritualitas kenapa program ini diselenggarakan dan kenapa kita bergabung di dalamnya.

Kedua, aspek manajemen diri.

Allah Swt berfirman dalam QS. Al Ashr, bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.  Dengan adanya manajemen diri dan waktu, sudah bisa dikatakan bahwa kita mampu beramal sholeh dan sepanjang hari kita, akan dipenuhi dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat. Manajemen diri adalah kemampuan seseorang untuk mengatur emosi, pikiran, dan perilakunya dalam situasi yang berbeda secara efektif dalam mengelola stres, mengendalikan impuls, dan memotivasi diri sendiri. Seseorang layak dikatakan mampu memenej dirinya tatkala ia mampu menetapkan dan bekerja menuju tujuan pribadi maupun akademiknya. Ciri-ciri seseorang berhasil dalam manajemen diri diantaranya adalah kemampuannya dalam kontrol impuls (impulse control), manajemen stres (stress management), menerapkan disiplin diri (self-discipline) dan mampu memotivasi diri (self-motivation), menetapkan tujuan (goal-setting) serta mampu memupuk kemampuan organisasional (organizational skills). Adapun tujuan manajemen diri pada hakikatnya adalah belajar bagaimana mengelola dan mengekspresikan emosi secara tepat, mengendalikan impuls, mengatasi tantangan, menetapkan tujuan, dan tekun.

Program tahfidz 30 juz juga demikian. Kegiatan ini diselenggarakan tidak hanya karena alasan spiritualitas saja, tapi bagaimana kita mendidik anak-anak kita tentang bagaimana manajemen diri dan waktu dalam sebuah lingkungan.

Ketiga, membangun Habit Positif.

Kita masih ingat beberapa tahun lalu, populer di kalangan muslim Indonesia sebuah gerakan sosial keagamaan yang mempunyai gaung sangat besar yaitu “gerakan sholat subuh berjamaah”. Pada awal-awal digulirkan, gerakan itu mampu menarik kaum muslim datang untuk sholat subuh berjamaah di mesjid-mesjid. Seiring waktu, gerakan itu kini mulai kurang terdengar lagi. Pertanyaannya ketika itu, setelah subuh berjamaah, apa program berikutnya? Apakah sekedar sholat subuh berjamaah terus bubar?Pointnya adalah semangat saja belum cukup. Tapi juga harus dibarengi dengan menyusun desain programnya, ditetapkan tujuannya dan dibentuk habitnya.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui ketika kita ingin memulai sebuah kebiasaan baru dalam hidup antara lain merujuk kepada buku Habit Stacking karya S.J. Scoot. Ada beberapa hal terkait habit yang disebutkan dalam buku tersebut, diantaranya: pertama, kebiasaan baru akan terbentuk minimal dalam 20-60 hari. Kedua konsisten adalah kunci utama untuk membentuk kebiasaan atau habit. Ketiga, mulai dari hal paling dasar atau kecil. Keempat, lakukan kebiasaan yang menunjang masa depan anak-anak kita atau goal/tujuan secara jangka panjang. Kelima, lakukan sebuah kebiasaan secara bersamaan agar lebih mudah.

Sebuah kebiasaan yang kita bentuk dari awal setidaknya membutuhkan usaha dan kerja keras. Kalau tidak percaya, coba perhatikan kebiasaan yang sudah melekat dalam diri kita. Bangun pagi pukul 03.30 sekali-kali mungkin bisa dilakukan setiap orang. Tapi setiap hari bangun pada jam tersebut tidak bisa dilakukan semua orang. Menurut para ahli, yang perlu kita pahami, kemampuan badan untuk melakukan sesuatu secara rutin terpusat pada pikiran bawah sadar atau sering disebut subconscious mind . Kemampuan ini hanya akan terbentuk saat otak sudah merekam sebuah aktifitas dengan maksimal. Mudahnya kita pahami seperti ini. Kalau kita sudah terbiasa bangun pukul 03.30, secara refleks badan kita akan meresponsnya secara natural.

Berikutnya terkait konsistensi. Sebagaimana pepatah, konsisten adalah kunci. Membentuk kebiasaan baru tanpa komitmen sama saja omong kosong. Banyak orang yang gagal membentuk sebuah habit karena tidak sabar. Kebiasaan baru perlu dilakukan secara konsisten. Intinya, kita melakukannya terus menerus tanpa absen. Semakin sering kita melakukan maka semakin baik habit melekat di otak bawah sadar kita. Perlu juga dipahami bahwa penting untuk menjaga ritme sebuah habit di waktu yang sama.

Intinya, kesuksesan program tahfidz ditentukan oleh banyak faktor dan tentunya dalam rangka membentuk karakter siswa-siswi kita. Semangat spiritualias saja belum cukup. Tetapi harus dibarengi dengan kemampuan manajemen diri dan habit yang positif. Program tahfidz ini bukan saja bertujuan agar anak-anak kita mampu hafal 30 juz beserta maknanya. Tapi juga menjalani proses pendidikan karakter manusia-manusia unggul para calon pemimpin masa depan yang akan bermanfaat bagi sesama. So, tidak ada alasan terlambat datang atau berhenti di tengah jalan dalam mengikuti semua proses mulia ini. Wallahu Alam.

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.