Antara Spiritualitas, Manajemen Diri dan Membangun Habit Positif

Oleh: Nanang Firdaus Masduki

Beberapa hari setelah dimulainya kembali aktifitas program tahfidz 30 juz, saya medapati beberapa siswa dan siswi datang terlambat. Dan keterlambatannya pun variatif. Mulai dari terlambat 5 menit hingga 1 jam. Ketika saya dapati, siswa yang paling banyak terlambat adalah siswa-siswi secondary dan ada juga beberapa siswa primary. Saya pun minta mereka setengah lari agar segera bergabung dengan groupnya. Dan secara acak pula saya tanya alasan kenapa mereka terlambat. Hal yang sama juga saya lakukan kepada muhafidz yang datang terlambat. Tidak ada bedanya.

Banyak alasan yang keluar khas orang kita yang diutarakan oleh para peserta. Macam-macam alasan. Namun ada satu alasan yang membuat saya tertegun mendengarnya. Mereka terlambat katanya karena alasannya sebentar lagi mau lulus. Sebentar lagi mau pindah sekolah. Ada juga yang beralasan terlambatnya karena bangunnya telat dan sebagainya.

Ketika program ini pertama kali digulirkan, ada banyak alasan yang mendasari kenapa program ini harus diselenggarakan serta apa tujuan yang ingin dicapai. Saya pun yakin, bergabungnya anak-anak kita dalam program ini didasari oleh banyak pertimbangan. Diantara pertimbangan itu adalah:

Pertama, aspek spiritualitas.

Menjadi seorang penghafal Alquran (hafiz) tentu tidak mudah. Butuh niat yang kuat dan kerja keras yang luar biasa. Karenanya, banyak yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada seorang muslim yang berhasil menghafal Alquran.  Banyak dalil yang menyebutkan keutamaan para hafiz.
Di antaranya, hadis Rasulullah dari Usman bin Affan. Beliau pernah bersabda, “Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Alquran (kepada orang lain),” hadis riwayat Imam Bukhari.

Hadis lain dari Ibnu Umar, Nabi bersabda, “Tidak boleh ada hasad (dengki) kecuali pada dua hal. (Pertama) kepada seorang yang telah diberi Allah (hafalan) Alquran, sehingga ia membacanya siang dan malam. (Kedua) kepada seorang yang dikaruniakan Allah harta kekayaan, lalu dibelanjakannya harta itu siang dan malam (di jalan Allah),” riwayat Bukhari dan Muslim.

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa dari Buraidah al-Aslami ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda _ “Siapa yang membaca al-Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari al-Qur’an”. (HR. Al Hakim)_.

Cukuplah hadis-hadis tersebut menunjukkan keutamaan para penghafal dan pembaca Alquran. Di dalam Islam, menghafal Alquran merupakan amalan yang tinggi. Pelakunya mendapat derajat yang tinggi. Apalagi, dari ingatan merekalah kemurnian Alquran terus terjaga. Kendati demikian, hukum menghafal Alquran bukanlah fardhu ain, melainkan fardhu kifayah. Inilah alasan spiritualitas kenapa program ini diselenggarakan dan kenapa kita bergabung di dalamnya.

Kedua, aspek manajemen diri.

Allah Swt berfirman dalam QS. Al Ashr, bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.  Dengan adanya manajemen diri dan waktu, sudah bisa dikatakan bahwa kita mampu beramal sholeh dan sepanjang hari kita, akan dipenuhi dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat. Manajemen diri adalah kemampuan seseorang untuk mengatur emosi, pikiran, dan perilakunya dalam situasi yang berbeda secara efektif dalam mengelola stres, mengendalikan impuls, dan memotivasi diri sendiri. Seseorang layak dikatakan mampu memenej dirinya tatkala ia mampu menetapkan dan bekerja menuju tujuan pribadi maupun akademiknya. Ciri-ciri seseorang berhasil dalam manajemen diri diantaranya adalah kemampuannya dalam kontrol impuls (impulse control), manajemen stres (stress management), menerapkan disiplin diri (self-discipline) dan mampu memotivasi diri (self-motivation), menetapkan tujuan (goal-setting) serta mampu memupuk kemampuan organisasional (organizational skills). Adapun tujuan manajemen diri pada hakikatnya adalah belajar bagaimana mengelola dan mengekspresikan emosi secara tepat, mengendalikan impuls, mengatasi tantangan, menetapkan tujuan, dan tekun.

Program tahfidz 30 juz juga demikian. Kegiatan ini diselenggarakan tidak hanya karena alasan spiritualitas saja, tapi bagaimana kita mendidik anak-anak kita tentang bagaimana manajemen diri dan waktu dalam sebuah lingkungan.

Ketiga, membangun Habit Positif.

Kita masih ingat beberapa tahun lalu, populer di kalangan muslim Indonesia sebuah gerakan sosial keagamaan yang mempunyai gaung sangat besar yaitu “gerakan sholat subuh berjamaah”. Pada awal-awal digulirkan, gerakan itu mampu menarik kaum muslim datang untuk sholat subuh berjamaah di mesjid-mesjid. Seiring waktu, gerakan itu kini mulai kurang terdengar lagi. Pertanyaannya ketika itu, setelah subuh berjamaah, apa program berikutnya? Apakah sekedar sholat subuh berjamaah terus bubar?Pointnya adalah semangat saja belum cukup. Tapi juga harus dibarengi dengan menyusun desain programnya, ditetapkan tujuannya dan dibentuk habitnya.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui ketika kita ingin memulai sebuah kebiasaan baru dalam hidup antara lain merujuk kepada buku Habit Stacking karya S.J. Scoot. Ada beberapa hal terkait habit yang disebutkan dalam buku tersebut, diantaranya: pertama, kebiasaan baru akan terbentuk minimal dalam 20-60 hari. Kedua konsisten adalah kunci utama untuk membentuk kebiasaan atau habit. Ketiga, mulai dari hal paling dasar atau kecil. Keempat, lakukan kebiasaan yang menunjang masa depan anak-anak kita atau goal/tujuan secara jangka panjang. Kelima, lakukan sebuah kebiasaan secara bersamaan agar lebih mudah.

Sebuah kebiasaan yang kita bentuk dari awal setidaknya membutuhkan usaha dan kerja keras. Kalau tidak percaya, coba perhatikan kebiasaan yang sudah melekat dalam diri kita. Bangun pagi pukul 03.30 sekali-kali mungkin bisa dilakukan setiap orang. Tapi setiap hari bangun pada jam tersebut tidak bisa dilakukan semua orang. Menurut para ahli, yang perlu kita pahami, kemampuan badan untuk melakukan sesuatu secara rutin terpusat pada pikiran bawah sadar atau sering disebut subconscious mind . Kemampuan ini hanya akan terbentuk saat otak sudah merekam sebuah aktifitas dengan maksimal. Mudahnya kita pahami seperti ini. Kalau kita sudah terbiasa bangun pukul 03.30, secara refleks badan kita akan meresponsnya secara natural.

Berikutnya terkait konsistensi. Sebagaimana pepatah, konsisten adalah kunci. Membentuk kebiasaan baru tanpa komitmen sama saja omong kosong. Banyak orang yang gagal membentuk sebuah habit karena tidak sabar. Kebiasaan baru perlu dilakukan secara konsisten. Intinya, kita melakukannya terus menerus tanpa absen. Semakin sering kita melakukan maka semakin baik habit melekat di otak bawah sadar kita. Perlu juga dipahami bahwa penting untuk menjaga ritme sebuah habit di waktu yang sama.

Intinya, kesuksesan program tahfidz ditentukan oleh banyak faktor dan tentunya dalam rangka membentuk karakter siswa-siswi kita. Semangat spiritualias saja belum cukup. Tetapi harus dibarengi dengan kemampuan manajemen diri dan habit yang positif. Program tahfidz ini bukan saja bertujuan agar anak-anak kita mampu hafal 30 juz beserta maknanya. Tapi juga menjalani proses pendidikan karakter manusia-manusia unggul para calon pemimpin masa depan yang akan bermanfaat bagi sesama. So, tidak ada alasan terlambat datang atau berhenti di tengah jalan dalam mengikuti semua proses mulia ini. Wallahu Alam.

Menciptakan Masa Depan di Era Industri 4.0

Mukadimah
Beberapa abad yang lampau, seorang filsuf Yunani bernama Heraclitus pernah berkata: “Satu-satunya hal yang konstan di dunia ini adalah perubahan”. Selama ribuan tahun, sebagian besar penduduk dunia membuat berbagai benda dengan cara tradisional yang tidak pernah berubah. Baru kemudian lebih dari 250 tahun yang lalu, sebuah perubahan terjadi di Inggris. Orang-orang yang hidup selama revolusi Industri pertama, periode dari sekitar tahun 1760 hingga tahun 1840, menjadi saksi dari pertumbuhan pesat mesin dan industrialisasi. Revolusi industri pertama dimulai pada abad ke 17 hingga abad ke 19. Ketika itu masyarakat pertanian mulai berubah arah menjadi masyarakat urban. Banyak penemuan baru ketika itu seperti kereta api lintas, listrik dan penemuan lain yang mengubah tatanan masyarakat secara permanen. Industri besi, tekstil dan pengembangan mesin uap memainkan peran sentral dalam revolusi industri.

Revolusi industri kedua adalah lompatan besar berikutnya dalam teknologi dan masyarakat. Periodisasinya berlangsung antara tahun 1850 sampai tahun 1914. Atau tepatnya sebelum perang dunia I. Revolusi industri kedua merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan industri yang sudah ada sebelumnya seperti industri baja, minyak bumi dan penggunaan tenaga listrik untuk menciptakan produksi massal. Kemajuan teknologi pada periode ini antara lain penemuan telepon, bola lampu, piringan hitam, mesin pembakaran internal, mobil dan pesawat terbang. Bisa dibilang kalau revolusi industri kedua memungkinkan globalisasi dan menciptakan rancangan awal dunia kita hari ini.

Berikutnya adalah revolusi industri ketiga atau revolusi digital yang dimulai pada tahun 1950 sampai sekarang. Revolusi digital mengacu kepada kemajuan teknologi dari perangkat elektronik dan mekanik analog ke teknologi digital. Revolusi industri ketiga membawa semikonduktor, komputasi mainframe, komputasi personal dan internet menuju revolusi digital. Di era revolusi digital kita bisa menikmati cloud, internet dan beberapa jenis perangkat pintar yang mudah diakses. Hal-hal yang dulu dilakukan secara analog bergeser ke teknologi digital. Pergeseran dari perangkat elektronik dan mekanis analog ke teknologi digital sangat mendisrupsi industri. Elektronik dan teknologi informasi mulai mengotomatisasi produksi dan mengambil alih rantai pasokan global.

Revolusi Industri Keempat
Revolusi Industri 4.0 atau dikenal dengan Fourth Industrial Revolution (4IR) merupakan era industri keempat sejak revolusi industri pertama pada abad ke 18. Era 4IR ditandai dengan perpaduan teknologi yang mengaburkan batas antara bidang fisik, digital dan biologis atau secara kolektif disebut sebagai sistem siber-fisik (cyber-physical system/CPS). Frasa Revolusi Industri Keempat pertama kali diciptakan oleh Klaus Schwab pada tahun 2016 dan diperkenalkan pada pertemuan tahunan World Economic Forum di Davos Klosters, Swiss.

Menurut Schwab, Revolusi Keempat ini pada dasarnya berbeda dari tiga revolusi sebelumnya. Terutama menyangkut kemajuan teknologi sebagai ciri utama. Masih menurut Schwab, yang mendasari 4IR lebih banyak terletak pada kemajuan dalam komunikasi dan keterhubungan dibandingkan teknologi. Teknologi memiliki potensi besar untuk terus menghubungkan miliaran manusia ke jejaring dunia maya sehingga secara drastis meningkatkan efisiensi dalam banyak hal dan membantu meregenerasi lingkungan alam melalui pengelolaan aset yang lebih baik.
Era Revolusi Keempat ditandai dengan munculnya terobosan teknologi di sejumlah bidang. Bidang-bidang yang dimaksud meliputi bidang Robotika, Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), Nanoteknologi Komputasi Kuantum (Quantum Computing), Bioteknologi, Internet of Things (Iot), Industrial Internet of Things_ (IIoT), Teknologi Nirkabel Generasi Kelima (5G), Aditif Manufaktur/pencetakan 3D dan industri kendaraan otonomi penuh (Fully Autonomous Vehicles).

Teknologi-teknologi tersebut mengubah tatanan hampir setiap industri di setiap negara. Besarnya jangkauan perubahan ini menandai transformasi seluruh sistem produksi, manajemen dan pemerintahan. Perubahan-perubahan Revolusi Industri 4.0 tanpa kita sadari sedang berlangsung dan menjadi semakin nyata di hadapan kita. Pertanyaannya, siapkah kita dan anak-anak generasi setelah kita menghadapi Revolusi Industri 4.0?

Dengan memahami arah perubahan yang terjadi, diharapkan kita menjadi lebih siap merangkul masa depan dan bertahan di dalamnya. Dengan menjadi generasi yang canggih mengelola dan memanfaatkan data dan informasi, mempersiapkan sejak dini, merancang program masa depan serta berteman dengan berbagai terobosan teknologi baru tersebut niscaya hal itu akan membuat kita survive bahkan menjadi pemenang di era Revolusi Industri 4.0.

Saatnya Mempersiapkan Masa Depan
Hari ini, kita berada di tengah-tengah Industri 4.0. Pemicunya adalah penyebaran global internet dan teknologi baru seperti sensor nirkabel serta kecerdasan buatan (AI). Seperti pendahulunya, Industri 4.0 akan secara radikal mengubah cara manusia hidup dan bekerja. Menurut para ahli, diperkirakan dalam 20 tahun yang akan datang sebagian tugas-tugas monoton dan berulang atau mudah-otomatis akan dilakukan oleh AI dan robot. Era baru akan ditentukan oleh AI, Robotik, otomatisasi, konektivitas di semua aspek, Smart City, Mobile Supercomputing dan kendaraan self-driving.

Revolusi Industri Keempat niscaya membawa beragam kemungkinan menarik, solusi-solusi baru untuk tantangan global dan peluang kerja untuk pekerjaan masa depan. Adalah sebuah fakta bahwa AI dan Robotika akan menyingkirkan tugas-tugas manusia. Dan banyak dari kita yang belum siap menghadapi pergolakan sosial besar-besaran dalam masyarakat. Oleh karena itu, ini akan menjadi alasan kuat mengapa institusi pendidikan harus difokuskan pada mempersiapkan siswa maupun mahasiswa untuk menguasai teknologi baru ini maupun untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh Robot maupun AI.

Mau tidak mau, perkembangan teknologi ini menuntut filsafat pendidikan baru yang radikal. Filsafat pendidikan yang bisa membuat kita terus belajar bagaimana menggunakan kreatifitas dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru. Maka setidaknya sistem pendidikan perlu diubah. Selama ini banyak institusi-institusi dunia yang hebat dan terhormat melahirkan banyak lulusan dengan gelar yang tidak praktis. Sekitar 65% anak-anak yang memasuki sekolah dasar saat ini akan berakhir dengan bekerja di profesi yang sekarang ini belum ada.

Program Robotika dan Artificial Intellegence (AI)
Dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi perubahan-perubahan teknologi di era Industri Keempat, Syafana Islamic School merancang program (introduction) pengenalan dan enrichment (pengayaan) bagi siswa-siswinya dalam bidang Robotika dan Articial Intellegence (AI). Sepengetahuan penulis, sejauh ini, program Robotika dan Artificial Intellegence (AI) belum masuk dalam kurikulum Sekolah Indonesia. Berbeda halnya dengan beberapa sekolah di China, Korea Selatan, Perancis, Taiwan dan Jepang yang memasukkan materi tersebut ke dalam kurikulum pendidikannya sejak pendidikan dasar.

Adapun penyelenggaraan program ini adalah murni inisiatif Syafana Islamic School yang ingin mempersiapkan siswa-siswinya dalam menyongsong perubahan teknologi di masa yang akan datang. Program ini adalah hasil kerjasama Syafana Islamic School dengan Robot Anak Negeri, sebuah institusi yang konsen dalam bidang-bidang tersebut yang dipimpin oleh Bpk. Riza Muhida, ST, M. Eng, Ph.D, Associate Professor in Mechatronics Engineering.

Program ini dimulai dengan sosialisasi dan pengenalan robotika kepada semua siswa di Primary kelas 4 dan 5 serta siswa Lower dan Upper Secondary di kelas masing-masing. Setelah itu, dengan mempertimbangkan minat, bakat, kecenderungan dan talent siswa, maka untuk tahap awal ini dipilihlah masing-masing 20 siswa/siswi Primary dan 20 siswa/siswi Secondary untuk mengikuti program ini. Kemudian selanjutnya dimintakan persetujuan kepada 40 orangtua siswa apakah akan mengikuti program ini atau tidak dengan segala konsekuensinya. Program ini bersifat opsional dan bukan wajib. Hanya diperuntukkan bagi yang berminat saja.

Rencananya, program ini akan dilaksanakan setiap hari sabtu selama 2 (dua) jam mulai semester yang akan datang pada tahun pelajaran 2019-2020. Seluruh peserta akan dibimbing langsung oleh tim bapak Riza dengan didampingi oleh Guru-Syafana Islamic School.

Harapan besar kami dengan diselenggarakannya program unggulan ini adalah akan lahir inovator-inovator unggul dalam bidang Robotika dan AI dari rahim Indonesia di masa yang akan datang. Harapannya, mereka akan menjadi pelaku utama perubahan di era Industri Keempat. Dan bukan hanya terpaku menjadi penonton dan customer berbagai hasil penemuan orang lain. Melihat minat, bakat, kecenderungan dan kualifikasi para mentor serta dukungan penuh Syafana dan seluruh orangtua, niscaya mimpi besar itu akan menjadi kenyataan. Wallahu A’lam Bishowab……

MOU GLOBAL YOUTH SUMMIT – MELBOURNE AUSTRALIA

22nd October 2019 was the most memorable day for Syafana Islamic School when we had the Global Youth Summit MOU signing event between Syafana, represented by our Chairperson, Ibu Ummu Latifah and the President of Hemisphere Foundation, Ms. Ann Phua, and a series of workshops with affected teachers and all students. The prestigious Global Youth Summit, to be held 19-21 January 2020, held twice a year, is a great opportunity for Syafana Islamic School to send thirteen upper secondary student delegates to this event: Dewa, Marsha, Shafira, Faiz, Niero, Sayla, Putri, Akbar, Raditya, Alayya, Azka, Gaizka and Garini. The summit so far has welcomed more than three thousand youths to participate in various activities over the last 5 years.
Ms. Ann Phua was warmly welcomed by all when she gave her talk to different groups of students. She had inspired our students, teachers, and parents for the whole day during her visit to Syafana. The causes that she’s actively driving are: the unhealthy state of earth, unhealthy lifestyle, organic farming,discrimination against women and developing sustainable businesses for impoverished peoples. Specifically, the GYS is her initiative to develop future leaders who can engage with each other on a global level to find sustainable solutions to the many problems facing the global community. These future leaders are gathered in the series planned and thoroughly activities on how they may express their ideas and innovations to answer the concern with the sustainable actions they undertake.

Attending a UN Assembly Model will give students experience on how the UN makes decisions on global issues, which involves building consensus with all countries throughout the world.
They are trained and facilitated by professionals. They will also work in groups of 3 maximum delegates and team up with delegates from different countries. Therefore they are encouraged to engage with other participants as well. For this activity, and all participants are rewarded with an official UN certificate.
One other important session the students will participate in is delivering a one-minute-presentation to try and convince the audience and judges to select their presentation and later compete in the final competition. They have to ensure that they have an effective idea/concept, choose their words carefully, as they try and impress the audience and judges with a short impactful presentation. If they obtain a score higher than 70% portion and 30% from the audience and judges, respectively, they may win the presentation competition. For this, they will get the cash to the maximum value AUS $ 9.000.

After the conference, they are required to continue their actions with their school community, parents, neighbouring schools and the general public when they return to their own country. They are also trained and supported by the Hemisphere Foundation on how planning how to do this well.

We are praying for our students to be well-prepared and increase their confidence as well as their independence so they can strengthen the school’s reputation and brand amongst the participating international communities, as well make our country proud and be ambassadors for Islam….. Aamiin…

Syafana Islamic School Upper Secondary melakukan kunjungan ke Universitas IPB.

Kamis, 10 Oktober 2019
Syafana Islamic School Upper Secondary melakukan kunjungan ke Universitas IPB.

Tidak lupa, kami mengawali perjalanan kami dengan memanjatkan doa bersama yg dipimpin oleh Bian di bus 1, dan Azhar di bus 2.

Perjalanan menuju Bogor merupakan perjalanan yang mengasyikkan dan menyenangkan bagi mereka. Bernyanyi bersama dan ada yg menjelaskan perjalanan layaknya guide dengan jenaka menambah hangatnya perjalanan ini. Semua perjalanan ini diatur dengan rapi oleh OSIS Upper Secondary mulai dari Adit yang mengatur teman-temannya di dalam Bus 2, sedangkan Sayla dibantu dengan Rafa yang mengabsen teman-temannya sampai membagikan makanan di bus 1.

Tiba di IPB, kami disambut oleh alumni Syafana Islamic School Upper Secondary, Febrina Anisa Utamiputri yang sekarang menjadi mahasiswa IPB jurusan Teknologi Pangan. Gayung bersambut, kehadiran Putri mendapat keantusiasan adik-adik kelasnya yang pernah menghabiskan waktu bersama dengan angkatan Putri selama di Syafana Islamic School Upper Secondary.

Selain disambut oleh alumni kami, kamipun mendapatkan sambutan hangat dari Humas IPB, Mas Muin yang juga merupakan alumni IPB angkatan 51. Mas Muin memberikan wawasan mengenai IPB, antara lain menjelaskan apa saja fakultas yang ada di IPB; inovasi2 yg sudah IPB buat; serta prestasi2 yg diraih oleh IPB baik nasional maupun internasional.

Setelah panjang lebar menjelaskan tentang IPB, MC membuka 2 sesi tanya jawab. Fikram Jauzaa kelas 12 mengajukan pertanyaan, “Bagaimana cara mendapatkan beasiswa di IPB?” Kemudian kami mendapatkan informasi bahwa ada beberapa beasiswa yg siswa bisa dapatkan melalui:
1. PIN (Prestasi Nasional dan Internasional) dengan menghafalkan ayat suci Al Qur’an.
2. Ketua OSIS, siswa yg memiliki pengalaman sbg ketua OSIS dpt mengajukan beasiswa sesuai pengalaman mereka di sekolah sebelumnya.
3. UKT (Uang Kuliah Tunggal), dibiayai oleh instansi pemerintah atau swasta.

Pertanyaan berikutnya dilayangkan oleh Salman, siswa kls 12 Syafana Islamic School. “Selain bidang akademis, adakah bidang non akademis yg IPB bisa berikan kepada mahasiswa untuk menyalurkan bakatnya?” Jihan sebagai duta IPB pun menjawab bahwa banyak sekali UKM yg bisa diikuti oleh mahasiswa. Salah satunya yg paling terkenal adalah AGRIASWARA, yaitu paduan suara yg telah memenangkan kompetisi menyanyi baik nasional maupun internasional.

Pertanyaan berikutnya adalah “Bagaimana cara masuk kelas internasional?” hal tersebut ditanyakan oleh Akbar, siswa kelas 11 IPA. Kemudian, MC mengundang Putri, alumni Syafana Islamic School Upper Secondary sebagai mahasiswi yg mendaftar di kelas internasional Teknologi Pangan untuk memberikan cara-cara mendaftar di kelas internasional.

Selanjutnya, MC memberikan doorprize kepada 5 penanya terbaik. 3 di antaranya Fikram Jauzaa, Salman Ahmad Daruquthni, dan Akbar Ramadhani Destu, 2 lainnya merupakan siswi berasal dari Padang.

Setelah pemberian doorprize, IPB memberikan kenang2an kepada sekolah yg telah hadir di IPB hari ini. Kemudian, Syafana Islamic School Upper Secondary pun memberikan kenang2an berupa plakat dan souvenir kepada IPB yg diwakili oleh Mas Muin, Humas IPB.

Selesainya acara tersebut, kami akhiri dengan sesi foto di depan gedung Auditorium Tayib Hadiwijaya.

Pelatihan Penanggulangan Bencana

Syafana Islamic School bersama lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyelenggarakan pelatihan yang bertajuk Simulasi Siaga Bencana di Syafana Islamic School kampus B jl. Raya Curug Sangereng No. 1 Paradiso Gading Serpong Tangerang pada hari Sabtu 10 Maret 2018.

Acara ini bertujuan membentuk tim khusus dalam penanggulangan bencana yang terjadi di sekolah. Yang nantinya diharapkan pelatihan ini akan diteruskan ke peserta didik di 5 (lima) kampus Syafana Islamic School lainnya.

Pada kesempatan kali ini, ada sekitar 100 orang perwakilan management, guru dan staf Syafana Islamic School yang mendapatkan seminar penaggulangan bencana dengan dipandu oleh 5 (lima) orang instruktur dari ACT.

Ada dua simulasi bahaya dalam acara itu, yaitu kebakaran dan gempa bumi. Dengan diberikannya kelas indoor dan outdoor ini, para peserta diharapkan akan mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni dalam penanganan bencana di sekolah.

Tim khusus diharapkan juga mampu secepatnya mengadakan pelatihan ke peserta didik masing-masing kampus dan membuat buku saku tanggap darurat di sekolah.

 

Fund-Raising for Palestine

Syafana Islamic School had a project for fund-raising for Palestine, which involved buying the school Calendar 2018 for Rp 30.000 each. A time limit of around 3 (three) weeks was given to collect the funds. And we pleasantly surprised that the total fundraising was Rp 100.000.000, Alhamdulillah.

Alhamdulillah, we cooperated with Aksi Cepat Tanggap (ACT-Fast Action Response), which was officially launched by law on 19th January 2018 as the foundation engaged in social and humanitarian fields, to deliver our donation to Palestine.  We make du’ah that our brothers and sister in Palestine will be happy with our donation and that Allah SWT rewards our students and parents, as Allah SWT says: “. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupinya..” (QS. Ath – Thalaq 2-3). Aamiin!

AUTHENTIC ASSESSMENT (P1 – P3 TEACHER TRAINING)

IMG-20160903-WA0015In accordance with the stages of children development, the characteristics of the way children learn, the concept of learning and meaningful learning, then learning activities for elementary school students, especially in the early grades is done by Thematic Learning. Thematic Learning is learning which is designed based on a particular theme. In its discussion theme was revisited on a variety of subjects. For example, the theme of “Water” can be viewed from Physics, Biology, Chemistry, and Mathematics. With this model the student is able to learn the knowledge and develop basic competency among subjects in the same theme. In the other hand the understanding of the subject matter becomes more profound and memorable.   The Thematic Learning is ‘Authentic Learning’, because the competencies to be built is not only the cognitive aspect but also affective and conative (psychomotor). With this model of learning, the assessment of learning outcomes must describe the students’ competency in the three aspects.

Assessment of learning outcomes that describe the students’ competency in cognitive, affective and conative is known as the Authentic Assessment. With this assessment model students are encouraged to construct, organize, synthesize, interpret, explain and evaluate information to turn it into a new knowledge. With Authentic Assessment, evaluation of learning outcomes is not accomplished only with a written assessment (formative and summative test) but also through the assessment of Performance, Project and Portfolio. With Thematic Learning model coupled with Authentic Assessment, the learning process is no longer ‘Teacher Centered’ but ‘Student Centered’.IMG-20160903-WA0016

In the framework of the program to increase the competence of teachers, especially in implementing the Thematic Learning model coupled with Authentic Assessment, the workshop was held on Saturday, September 3 in Multifunctional Hall – Paradiso Campus.  The workshop was attended by teachers of P1 – P3 level such as Homeroom Teachers, Specialist Teachers and the Subject Heads. Despite at the expense of their holyday, the participants seemed enthusiastic attended the workshop that lasted until in the afternoon. Insha Allah, the results of this workshop will increase the professionalism of the teachers. (HP)